Dilema Mahasiswa Tingkat Akhir

Sudah lama sekali aku tidak menulis, sehingga sering muncul ide dan cerita yang tidak tersampaikan. Jadi kali ini aku ingin bercerita tentang bagaimana galau nya sebagai Mahasiswa tingkat akhir serta berbagai derita keringat darah dan cinta yang tiada pernah berakhir. yaelah lebay haha.

Sebagai Mahasiswa tingkat akhir sudah menjadi suatu yang lumrah dan wajar ketika muncul dalam pemikiran “kok gue udah ga kenal sama lingkungan kuliah ya, terutama orang orangnya”. Ya, itu adalah hal yang sering dialami ketika seorang mahasiswa pergi ke kampus dan jarang bertemu teman seangkatannya. Apalagi hal yang di bilang “wajar” lagi ketika sering ketemu adik tingkat yang selalu nanya gini “Kang, udah beres skripsi nya?”, “kang kapan lulus?”, “kang ngapain ke kampus?”. Pertanyaan yang bikin ngeselin selalu terlontar dari bibir manis polos adik tingkat. Ya, kadang – kadang sekali ingin ngejitak dan kadang – kadang juga menjadi sebuah tamparan tersendiri. Dan satu hal lagi yang selalu ada dipikiran mahasiswa tingkat akhir adalah “kok gini amat ya skripsi, apa gue bisa?”. Ya itu dibilang pemikiran ekstrim lah, tetapi memang hal – hal yang ghoib ini suka muncul tiba – tiba ketika sedang dilanda dilema.

Di Kampus, hal yang paling ditunggu mahasiswa akhir adalah kehadiran “Dosen”. Ya, Dosen diibaratkan malaikat penolong yang selalu dinanti nanti umat manusia. Tetapi, Dosen juga terkadang menghilang tak ada kabar seperti bang toyib. Banyak sekali tipe Dosen untuk dijadikan pembimbing oleh Mahasiswa. Suatu ketika juga, aku ingin mengajukan proposal Skripsi ke koordinator skripsi, supaya segera mendapat dosen pembimbing. Tetapi pada saat penyerahan pertama, aku harus merivisi dan mendalami lagi apa yang aku ajukan. Setelah itu berselang 3 hari aku menyerahkan hasil revisian dan mendalami sedikit materi yang aku ajukan. Pada saat itupun proposal aku diterima dan disuruh untuk bertemu lagi dosen tersebut pada hari rabu seminggu setelah pengumpulan tepat pukul 07.00 pas diruangannya. Seminggu kemudian, aku memenuhi janji tersebut. aku sudah stand by didepan ruangannya pukul 06.45. Pas pukul 07.00, aneh nya dosen yang membuat janji tidak datang. Ah, mungkin telat beberapa menit. Tetapi aku menunggu sampai jam 09.00 tidak kunjung datang, hatiku berbicara “kok, gini amat ya dosen. lupa atau emang sengaja atau gimana gitu”. Saking kesalnya, aku pun pergi karena kelamaan menunggu. Dan ajaib nya, sampai 2 bulan tidak ada respon mengenai proposal yang aku ajukan. Akhirnya, aku ajukan lagi proposal nya ke koordinator yang satunya lagi. Dan tak lama kemudian, selama 2 hari aku sudah mendapat dosen yang akan menguji proposalku. “Ada aja ya dosen teh, ada yang nyadar ada yang engga. ah gapapa lah yang penting bisa pengujian proposal”. Setelah pengujian proposal, 2 hari berselang aku langsung mendapatkan dosen pembimbing skripsi dan bisa langsung melanjutkan skripsi berdasarkan proposal yang aku ajukan.

Banyak sekali hal yang menjadi tabu ketika menjadi mahasiswa akhir. Yang asal nya kita berbarengan kemanapun dengan teman ketika kuliah, sekarang harus sendiri. Yang asalnya kuliah di kelas, sekarang diruangan dosen atau dimanapun untuk menyelesaikan skripsi. Yang asalnya makan teratur, jadi tidak teratur (padahal sama sama aja haha). Yang asalnya dosen nungguin kita, sekarang kita yang nungguin dosen. Dan terkadang, dengan skripsi yang selalu jadi pikiran, bisa membuat tubuh kita nempel sama kasur alias “Males-Malesan”. Jangan sampai lah ya.

Dengan adanya skripsi ini, percayalah bahwasannya ini adalah skenario-Nya. Dan percayalah bahwa Tuhan memberikan ujian sesuai dengan kemampuan kita. Tuhan yang menetapkan standar ini untuk memberikan ujian cinta-Nya atas kita, karenanya ada baiknya, kita pun diam-diam merenungi dalam-dalam bahwa mereka yang diuji sejatinya tengah bertarung dengan kekuatan iman, kemurnian pikiran, kedalaman pemahaman, dan kepekaan nurani untuk merasakan hikmah di balik segala ujian yang ada. Tuhan berhak menguji dengan tawa dan tangis yang tercipta, agar ada decap syukur dan sabar di antara keduanya. Tuhan juga berhak membuat kita tertawa bahagia, agar terbangun syukur yang ada setelahnya.

Bukan hanya itu saja, Tuhan juga akan membumbuhi perjalanan kita dengan sedikit rasa tawar agar teriring sabar di dalamnya. Hidup selalu menawarkan fase kehidupan yang akan dilalui, dari yang rendah tingkatannya hingga yang paling tinggi. Setiap fase hadir karena pelakunya mampu melewati tantangan tersebut.

Salah satu kekuatan terbesar para pejuang tugas akhir adalah doa orang tua, dukungan dari teman seangkatan. Karena kekuatan terbesar ada pada orang tua, tentu perbanyaklah memohon ridha orang tua. Tantangan terberatmu jelas ada pada dosen pembimbing kapan dan di mana harus bertemu. Bagian mana yang harus direvisi, yang penting siap-siaplah untuk kuat meskipun sebenarnya kita tidak bakalan kuat melihat tugas akhir kita dicoret-coret. Semangat para pejuang skripsi! Masa depan kita ditentukan dengan keadaan dan sikap kita saat ini 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s